Kamis, 24 Juli 2008

Matano yang terlupakan



Matano merupakan akar kebudayaan yang telah berintegrasi dalam wilayah kesadaran masyarakat pendukungnya, disadari atau tidak bahwa keagungan dan kearifan sejarah dan kebudayaan di Matano telah menjadi kekuatan tersendiri dalam menyerap dan mentransformasikan berbagai anasir kebudayaan dari luar yang kemudian berintegrasi dalam sebuah harmonisasi kebudayaan. Meski demikian, kekuatan tersebut dewasa ini telah mengalami reduksi struktural. Bahkan secara horizontal, kebudayaan di Matano terus mengalami alienisasi sejak Indonesia berada di era transisi revolusi, kondisi ini semakin diperparah oleh adanya kecenderungan terjadinya proses politisasi sejarah dan kebudayaan, hal ini tentunya juga akan menjadikan sejarah dan kebudayaan di Matano mengalami keterasingan dan kemunduran. Namun demikian, kebudayaan Luwu yang kita kenal sekarang telah memiliki sejarah yang sangat panjang bahkan sejak dahulu kala telah menampakkan kesejajaran kronologis atau kemitraan vertikal dengan kebudayaan di Matano.



Berpijak pada kondisi diataslah, maka masyarakat Matano mulai merasakan perlunya suatu langkah yang tepat untuk mendokumentasikan kembali serpihan-serpihan sejarah tersebut, sehingga perlunya untuk mereuni memori masyarakat Matano akan sejarahnya sendiri yang pada gilirannya dapat dijadikan aset nasional dalam mengisi pembangunan dengan kerangka otonomi daerah untuk menjadi acuan konsep pemerintah Luwu Timur dalam pengembangan program agrowisata dan agroibisnis, juga berfungsi sebagai investasi intelektual bagi generasi masyarakat Matano saat ini dan selanjutnya, karena bercermin pada sejarah adalah salah satu hal yang mampu memicu proses kreatif.

Tidak ada komentar:

Comment

Silahkan anda memberikan komentar tentang artikel di atas